Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Wednesday, 16 September 2015

Kisah Si Botak, Si Belang dan Si Buta

Abu Hurairah R.A mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Ada tiga orang dari Bani Israil: Si Botak, Si Belang dan Si Buta. Allah berkehendak menguji mereka. Diutuslah kepada mereka seorang Malaikat dalam rupa manusia. Datanglah Malaikat itu kepada Si Belang dan berkata," apakah yang kau inginkan?" Jawabnya, kulit dan rupa yang bagus serta sembuhnya penyakit yang menyebabkan orang jijik kepadaku." Dia lalu diusapkan oleh Malaikat. Seketika hilang penyakitnya dan berganti rupa serta kulit yang halus. Kemudian ditanya lagi, "Kekayaan apa yang kau inginkan?" Jawabnya, "Unta." Maka diberinya satu ekor unta yang sedang hamil sambil didoakan "Barakallahu laka fiha." (Semoga Allah memberkahi unta ini kepadamu).


Malaikat datang kepada Si Botak dan bertanya" apakah yang kau inginkan? Jawabnya "rambut yang bagus dan sembuh dari penyakit yang menyebakan aku hina dalam pandangan manusia." Maka di usapnya dia.Seketika itu juga tumbuh rambut yang bagus. Kemudian ditanya lagi, "Kini kekayaan apa yang kau  inginkan?" Jawabnya "Lembu." Maka diberinya seekor lembu hamil sambil didoakan "Barakallahu laka fiha." (Semoga Allah memberkahi lembu itu kepadamu).
Malaikat datang kepada Si Buta dan bertanya" apakah yang kau inginkan? Jawabnya "kembalinya daya penglihatanku supaya aku dapat melihat." Maka di usapnya dia.Segera pula terbuka matanya dapat melihat.Selanjutnya ditanya, "Kekayaan apa yang kau  inginkan?" Jawabnya "Kambing." Maka diberinya seekor kambing hamil sambil didoakan.

Setelah beberapa tahun, dan masing-masing mereka sudah mempunyai kawasan tersendiri yang penuh dengan unta, atau lembu, atau kambing. Maka datanglah Malaikat itu kepada Si Belang dalam rupa seorang miskin, laksana keadaan Si Belang dahulu pada waktu belum sembuh dan kaya itu.Malaikat berkata, " Aku seorang miskin yang kehabisan bekal di perjalanan. Tiada yang dapat mengembalikan aku kecuali dengan pertolongan Allah dan bantuanmu. Aku mengharap demi Allah, yang memberi rupa dan kulit yang bagus, satu unta saja untuk meneruskan perjalananku ini."Jawab Si Belang," Hak-hak orang miskin masih banyak. Aku tidak dapat memberimu apa-apa. Silakan mita saja di lain tempat. "Berkata Malaikat itu, "Aku merasa mengenalmu. Tidakkah kau dahulu belang dan orang-orang merasa jijik kepadamu, juga seorang miskin, lalu Allah memberimu kekayaan? "Jawabnya, " Aku mewarisi kekayaan ini dari orang-orang tuaku sejak dulu." Malaikat itu berkata, " Jika kau berdusta, semoga Allah mengembalikan keadaanmu seperti sedia kala."

Malaikat kemudian pergi kepada Si Botak dengan menyamar seperti keadaan Si Botak dahulu. Dia berkata pula kepada Si Botak  sebagaimana yang dikatakan kepada Si Belang. Namun dia juga mendapatkan jawaban seperti jawaban Si Belang, hingga didoakan, "Jika kau berdusta semoga Allah mengembalikan keadaanmu seperti sedia kala." Dan akhirnya datanglah Malaikat kepada Si Buta dengan menyamar seperti keadaan Si Buta dahulu semasa miskin. Katanya, "Seorang miskin dan orang rantau kehabisan bekal perjalanan, kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian bantuanmu. Aku minta demi Allah yang mengembalikan pandangan matamu  satu kambing saja untuk meneruskan perjalananku ini." Jawab Si Buta, "Dulu aku buta, lalu Allah berikan penglihatanku, maka sekarang ambillah sesukamu. Aku tidak akan memberatkan sesuatupun kepadamu yang kau ambil karena Allah." Maka berkata Malaikat," maka janganlah harta kekayaanmu, sebenarnya kamu diuji. maka Allah rdha kepadamu dan murka kepada kedua temanmu" (HR.Bukhari dan Muslim)

Kisah yang di tuturkan secara rinci oleh Hadis di atas merupakan kisah yang sering dialami banyak orang, khususnya orang yang mengaku beriman. Betapa banyak pelajar yang fakir, bisa lulus dan dijadikan kaya oleh Allah SWT, lalu lupa dan membatasi diri. Mereka enggan mengambil pelajaran dari orang lain. begitu pula pegawai dan orang-orang yang memiliki harta kekayaan pangkat dan kekuasaan hendaklah seseorang menjaga diri agar terhindar dari sifat pelit dan sombong. 
Kisah tersebut memberikan banyak hikmah yang kepada kita, diantaranya yang terpenting adalah:
  1. Allah menguji dengan kekayaan dan kebaikan sebagaimana Dia menguji dengan kefakiran dan keburukan.
  2. Sikap bersyukur akan melestarikan nikmat yang ada di samping bisa menarik nikmat yang hilang
  3. Anjuran mengambil manfaat terhadap hikmah yang benar dari manapu sumbernya.
Demikianlah semoga kisah ini menjadi pelajaran buat kita semua Wallahu muwafiq ila aqwa mittarq.

Saturday, 13 December 2014

Kisah Inspirasi: Berhenti Menjadi Wanita Karir demi Taat Pada Suami


kisah inspirasi menjadi wanita karir


Berhenti Jadi Wanita Karir,


Sore itu sembari menunggu kedatangan teman yang akan menjemputku di masjid ini seusai ashar. Kulihat seseorang yang berpakaian rapi, berjilbab dan tertutup sedang duduk disamping

masjid. Kelihatannya ia sedang menunggu seseorang juga. Aku mencoba menegurnya dan duduk disampingnya, mengucapkan salam, sembari berkenalan.


Dan akhirnya pembicaraan sampai pula pada pertanyaan itu. “Anti sudah menikah?”.


“Belum ”, jawabku datar.


Kemudian wanita berjubah panjang (Akhwat) itu bertanya lagi “kenapa?”


Pertanyaan yang hanya bisa ku jawab dengan senyuman. Ingin kujawab karena masih hendak melanjutkan pendidikan, tapi rasanya itu bukan alasan.


“Mbak menunggu siapa?” aku mencoba bertanya.


“Menunggu suami” jawabnya pendek.


Aku melihat kesamping kirinya, sebuah tas laptop dan sebuah tas besar lagi yang tak bisa kutebak apa isinya. Dalam hati bertanya-tanya, dari mana mbak ini? Sepertinya wanita karir. Akhirnya

kuberanikan juga untuk bertanya “Mbak kerja di mana?”


Entah keyakinan apa yang membuatku demikian yakin jika mbak ini memang seorang wanita pekerja, padahal setahu ku, akhwat-akhwat seperti ini kebanyakan hanya mengabdi sebagai ibu rumah tangga.


“Alhamdulillah 2 jam yang lalu saya resmi tidak bekerja lagi” jawabnya dengan wajah yang aneh menurutku, wajah yang bersinar dengan ketulusan hati.


“Kenapa?” tanyaku lagi.


Dia hanya tersenyum dan menjawab “karena inilah PINTU AWAL kita wanita karir yang bisa membuat kita lebih hormat pada suami” jawabnya tegas.


Aku berfikir sejenak, apa hubungannya? Heran. Lagi-lagi dia hanya tersenyum.


Saudariku, boleh saya cerita sedikit? Dan saya berharap ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kita para wanita yang Insya Allah hanya ingin didatangi oleh laki-laki yang baik-baik dan sholeh saja.


“Saya bekerja di kantor, mungkin tak perlu saya sebutkan nama kantornya. Gaji saya 7 juta/bulan. Suami saya bekerja sebagai penjual roti bakar di pagi hari dan es cendol di siang hari. Kami menikah baru 3 bulan, dan kemarinlah untuk pertama kalinya saya menangis karena merasa durhaka padanya. Kamu tahu kenapa ?

Waktu itu jam 7 malam, suami saya saya dari kantor, hari ini lembur, biasanya sore jam 3 sudah pulang. Setibanya dirumah, mungkin hanya istirahat yang terlintas dibenak kami wanita karir. Ya, Saya akui saya sungguh capek sekali ukhty. Dan kebetulan saat itu suami juga bilang jika dia masuk angin dan kepalanya pusing.


Celakanya rasa pusing itu juga menyerang saya. Berbeda dengan saya, suami saya hanya minta diambilkan air putih untuk minum, tapi saya malah berkata, “abi, pusing nih, ambil sendirilah !!”.


Pusing membuat saya tertidur hingga lupa sholat isya. Jam 23.30 saya terbangun dan cepat-cepat sholat, Alhamdulillah pusing pun telah hilang. Beranjak dari sajadah, saya melihat suami saya tidur dengan pulasnya. Menuju ke dapur, saya liat semua piring sudah

bersih tercuci. Siapa lagi yang bukan mencucinya kalo bukan suami saya (kami memang berkomitmen untuk tidak memiliki khodimah)?


Terlihat lagi semua baju kotor telah di cuci.


Astagfirullah, kenapa abi mengerjakan semua ini?


Bukankah abi juga pusing tadi malam? Saya segera masuk lagi ke kamar, berharap abi sadar dan mau menjelaskannya, tapi rasanya abi terlalu lelah, hingga tak sadar juga.


Rasa iba mulai memenuhi jiwa saya, saya pegang wajah suami saya itu, ya Allah panas sekali pipinya, keningnya, Masya Allah, abi demam, tinggi sekali panasnya. Saya teringat perkataan terakhir saya pada suami tadi. Hanya disuruh mengambilkan air putih saja saya membantahnya.


Air mata ini menetes, air mata karena telah melupakan hak-hak suami saya.”


Subhanallah, aku melihat mbak ini cerita dengan semangatnya, membuat hati ini merinding. Dan kulihat juga ada tetesan air mata yang di usapnya.


“Kamu tahu berapa gaji suami saya? Sangat berbeda jauh dengan gaji saya. Sekitar 600-700 rb/bulan. Sepersepuluh dari gaji saya sebulan.


Malam itu saya benar-benar merasa sangat durhaka pada suami saya.


Dengan gaji yang saya miliki, saya merasa tak perlu meminta nafkah pada suami, meskipun suami selalu memberikan hasil jualannya itu pada saya dengan ikhlas dari lubuk hatinya.


Setiap kali memberikan hasil jualannya, ia selalu berkata “Umi, ini ada titipan rezeki dari Allah. Di ambil ya. Buat keperluan kita. Dan tidak banyak jumlahnya, mudah-mudahan Umi ridho”, begitulah katanya.


Saat itu saya baru merasakan dalamnya kata-kata itu. Betapa harta ini membuat saya sombong dan durhaka pada nafkah yang diberikan suami saya, dan saya yakin hampir tidak ada wanita karir yang selamat dari fitnah ini”


“Alhamdulillah saya sekarang memutuskan untuk berhenti bekerja, mudah-mudahan dengan jalan ini, saya lebih bisa menghargai nafkah yang diberikan suami. Wanita itu sering begitu susah jika tanpa harta, dan karena harta juga wanita sering lupa kodratnya”


Lanjutnya lagi, tak memberikan kesempatan bagiku untuk berbicara. “Beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah orang tua, dan menceritakan niat saya ini. Saya sedih, karena orang tua, dan saudara- saudara saya justru tidak ada yang mendukung niat saya untuk berhenti berkerja. Sesuai dugaan saya, mereka malah membanding-bandingkan pekerjaan suami saya dengan yang lain.”


Aku masih terdiam, bisu mendengar keluh kesahnya. Subhanallah, apa aku bisa seperti dia? Menerima sosok pangeran apa adanya, bahkan rela meninggalkan pekerjaan.


“Kak, bukankah kita harus memikirkan masa depan ? Kita kerja juga kan untuk anak-anak kita kak. Biaya hidup sekarang ini mahal. Begitu banyak orang yang butuh pekerjaan. Nah kakak malah pengen berhenti kerja. Suami kakak pun penghasilannya kurang. Mending kalo suami kakak pengusaha kaya, bolehlah kita santai-santai aja di rumah.


Salah kakak juga sih, kalo mau jadi ibu rumah tangga, seharusnya nikah sama yang kaya. Sama dokter muda itu yang berniat melamar kakak duluan sebelum sama yang ini. Tapi kakak lebih milih nikah sama orang yang belum jelas pekerjaannya. Dari 4 orang anak bapak, Cuma suami kakak yang tidak punya penghasilan tetap dan yang paling buat kami kesal, sepertinya suami kakak itu lebih suka hidup seperti ini, ditawarin kerja di bank oleh saudara sendiri yang ingin membantupun tak mau, sampai heran aku, apa maunya suami kakak itu”. Ceritanya kembali mengalir, menceritakan ucapan adik perempuannya saat dimintai pendapat.


“Anti tau, saya hanya bisa menangis saat itu. Saya menangis bukan karena apa yang dikatakan adik saya itu benar, Demi Allah bukan karena itu. Tapi saya menangis karena imam saya sudah DIPANDANG RENDAH olehnya. Bagaimana mungkin dia meremehkan setiap tetes keringat suami saya, padahal dengan tetesan keringat itu, Allah memandangnya mulia ?


Bagaimana mungkin dia menghina orang yang senantiasa membangunkan saya untuk sujud dimalam hari ?


Bagaimana mungkin dia menghina orang yang dengan kata-kata lembutnya selalu menenangkan hati saya ?


Bagaimana mungkin dia menghina orang yang berani datang pada orang tua saya untuk melamar saya, saat itu orang tersebut

belum mempunyai pekerjaan ?


Bagaimana mungkin seseorang yang begitu saya muliakan, ternyata begitu rendah di hadapannya hanya karena sebuah pekerjaaan ?


Saya memutuskan berhenti bekerja, karena tak ingin melihat orang membanding-bandingkan gaji saya dengan gaji suami saya. Saya memutuskan berhenti bekerja juga untuk menghargai nafkah yang diberikan suami saya.


Saya juga memutuskan berhenti bekerja untuk memenuhi hak-hak suami saya. Saya berharap dengan begitu saya tak lagi membantah perintah suami saya. Mudah-mudahan saya juga ridho atas besarnya nafkah itu.


Saya bangga dengan pekerjaan suami saya ukhty, sangat bangga, bahkan begitu menghormati pekerjaannya, karena tak semua orang punya keberanian dengan pekerjaan seperti itu.


Disaat kebanyakan orang lebih memilih jadi pengangguran dari pada melakukan pekerjaan yang seperti itu. Tetapi suami saya, tak ada rasa malu baginya untuk menafkahi istri dengan nafkah yang halal. Itulah yang membuat saya begitu bangga pada suami saya.


Suatu saat jika anti mendapatkan suami seperti suami saya, anti tak perlu malu untuk menceritakannya pekerjaan suami anti pada orang lain. Bukan masalah pekerjaannya ukhty, tapi masalah halalnya, berkahnya, dan kita memohon pada Allah, semoga Allah menjauhkan suami kita dari rizki yang haram”. Ucapnya terakhir, sambil tersenyum manis padaku.


Dan dia mengambil tas laptopnya, bergegas ingin meninggalkanku. Kulihat dari kejauhan seorang laki-laki dengan menggunakan sepeda motor butut mendekat ke arah kami, wajahnya ditutupi kaca helm, meskipun tak ada niatku menatap mukanya. Sambil mengucapkan salam, wanita itu meninggalkanku.


Wajah itu tenang sekali, wajah seorang istri yang begitu ridho.


Ya Allah….

Sekarang giliran aku yang menangis. Hari ini aku dapat pelajaran paling berkesan dalam hidupku.

Pelajaran yang membuatku menghapus sosok pangeran kaya yang ada dalam benakku..Subhanallah..Walhamdulillah..Wa Laa ilaaha illallah…Allahu Akbar


Semoga pekerjaan, harta dan kekayaan tak pernah menghalangimu untuk tidak menerima pinangan dari laki-laki yang baik agamanya.


Copas dari saudara: Fathul Baari

Wednesday, 12 March 2014

Cerpen judul ANTARA DUA PILIHAN



ANTARA DUA PILIHAN

oleh :@m4L14 N4ND@


“satu…dua…tiga.. ayo cepat, kalo kalian lambat kayak gini kita bisa kalah sama sekolah lain”ucapku sambil memberi semangat kepada tim ku. Namaku Rio, aku adalah kapten tim basket di sekolahku yang bulan depan akan mewakili sekolahku dalam lomba basket antar sekolah. Saat sedang latihan, tiba-tiba saja datang seorng perempuan memanggilku dengan nada yang sedikit membentak.
“ kamu lupa ya kalo sekarang kita mau jalan?” ucap pacarku yang bernama LIa
“maaf LIa bukannya aku lupa, aku cuma gak sempet ngasih tau kamu” kataku menyesal
“kamu udah sering kayak gini setiap kita mau jalan pasti gak jadi terus dan alasannya selalu latihan basket latihan basket, kapan kamu punya waktu buat aku ?” protes
“oke besok aku bakal ngeluangin waktu buat kamu, maaf karna kesibukanku” katakku
Esok harinya aku dan Lia akhirnya dapat jalan-jalan bersama, menikmati suasana yang jarang kita rasakan. Meskipun Lia masih marah padaku, namun aku tetap memintanya agar datang pada saat pertandingan. Beberapa hari sebelum pertandingan, aku, teman-temanku, pelatih beserta kepala sekolah berkumpul di aula untuk mendengarkan pesan dari kepala sekolah.
“ anak-anak, bapak berharap besar sama kalian untuk bisa mendapat gelar juara yang slama ini belum kita dapatkan” ucap kepala sekolah dengan sungguh-sungguh
“iya pak, kami akan berjuang untuk bisa mendapat gelar juara “ jawabku serempak dengan teman-temanku
“ bagus anak-anak, semangat kalian harus kayak gini “ kata pak Deny, pelatih kami
                Hari pertandinganpun tiba, sebelum bertanding kami berdoa terlebih dahulu agar bisa menang dalam pertandingan ini. Aku melihat ke bangku penonton, mataku mencari sosok yang selalu ku rindukan yaitu Lia, namun dia tidak ada di bangku penonton. Sampai pertandingan pun tiba, akhirnya aku mulai pertandingan tanpa semangat dari pacarku, pada awal pertandingan tim kami unggul sampai pada akhir pertandingan tim kami masih unggul dengan skor yang beda jauh. Kami sangat senang dan bangga bisa menjadi pemenang dalam pertandingan ini, namun tetap saja aku masih sedih karena Lia tidak datang saat pertandingan. Minggu depan kami akan melawan sekolah yang tahun lalu menjadi juara 3.
                Kami berlatih dengan rutin, hampir setiap hari kami berlatih sampai suatu hari saat latihan semua temanku mengeluh.
“kapan kita bisa istirahat ? setiap hari latihan terus “ ucap temanku terlihat lelah
“kenapa kalian ngeluh kayak gini ? kita ngelakuin ini demi sekolah ! itu kan tujuan kita. Kalian mau ngecewain pelatih sama kepala y sekolah yang udah percaya sama kita ?” ucapku
“ya nggak, tapi kita capek terus-terusan latihan” eluh temanku kembali
“aku tau kalian capek, aku juga sebenernya capek tapi aku gak pernah ngeluh sama kalian jadi aku mohon sama kalian jangan ngeluh lagi, ada waktunya kita istirahat “
“maaf Rio, gak seharusnya kami ngeluh. Ayo teman-teman kita latihan lagi “  ucap temanku dengan semangat
Aku tersenyum melihat mereka latihan dengan semangat. Selesai latihan, Lia tiba-tiba saja memintaku bertemu. Aku sangat senang bisa bertemu dengan Lia namun rasa senang berubah menjadi sedih.
“Lia, ada apa ? kangen ya sama aku ? “ candaku
“Rio, aku gak bisa kayak gini terus, kamu lebih mentingin basket daripada aku “ ucap Lia menahan tangis
“Lia, bukannya aku lebih mentingin basket daripada kamu tapi aku sebagai kapten tim basket gak bisa ninggalin mereka gitu aja, itu tugas dari sekolah dan aku harap kamu bisa ngertiin aku “ ucapku
“aku udah capek, sekarang kamu lebih milih aku atau basket ?” kata Lia
“aku milih keduanya “ kataku
“ kamu piih aku atau basket ?!” ucap Lia sedikit membentak
“ maaf Lia tapi sekarang aku lebih milih basket, aku gak mungkin ninggalin basket karna sebentar lagi ada pertandingan tapi meskipun aku milih basket, aku tetep sayang sama kamu, aku selalu nerima kamu kapan aja “ ucapku dengan berat hati
Lia langsung pergi meninggalkanku tanpa berkata apa-apa. Hari-hari berlalu tanpa kabar dari Lia, sampai pada akhirnya hari pertandinganpun tiba. Aku bersama teman-temanku sedang mendengarkan penjelasan dari Pak Deny untuk strategi bermain, namun aku tidak terlalu mendengarkan apa yang di katakan oleh pelatih karena aku masih memikirkan Lia. Sampai pertandingan pun dimulai aku masih memikirkan Lia, pada awal pertandingan kami kewalahan menghadapi sekolah lain dan skor kami pun tertinggal jauh namun pada pertengahan pertandingan kami mampu mengejar skor yang tertinggal jauh. Dan pada akhirnya tuhan masih berpihak pada tim kita , tim kita masuk ke babak final dan melawan sekolah yang tahun lalu merebut juara pertama, semua orang senang atas kemenangan yang sudah di raih namun di balik kesenangan yang kurasa masih tersimpan rasa sedihku karna Lia meninggalkanku. Beberapa hari kemudian setelah pertandingan , semua teman-temanku dan pelatih berkumpul untuk membahas lawan yang akan kami hadapi minggu depan.
Tanpa terasa hari demi hari kami lalui sampai pertandingan pun sudah diujung mata dan pertandingan pun dimulai. Pada awal pertandingan, kami sempat kewalahan namun kami dapat mengejar skor yang tertinggal. Pada pertengahan pertandingan kami tertinggal jauh dengan lawan dan teman-temanku pun terlihat putus asa sampai waktu istirahat tiba skor kami tetap sama.
“ rio kita udah capek, kayaknya kita gak bakal menang lawan mereka “ ucap temanku pasrah
“ iya , lagian skor kita udah ketinggalan jauh sama mereka  “ sambung temanku
“ kalian mau pasrah dengan keadaan ini ? kalian mau nyia2in waktu dan tenaga kalian yang selama ini kalian pakai buat latihan ? coba kalian liat di luar , temen2 kita dari sekolah dating buat nyemangatin kita. Apa kalian mau buat mereka kecewa ? “ ucapku tegas. Semua tampak berfikir dan mereka mulai percaya diri kembali.
“  maaf rio , kita udah janji buat gak ngeluh lagi tapi kenyataanya gini “ kata temanku menyesal.
“ yaudah gak apa-apa yang penting kalian gak boleh nyerah , inget walaupun peluang untuk menang itu tipis tapi kita masih ada kesempatan walaupun hanya 1 persen. Ayo semuanya semangat “ kataku.
Tiba-tiba saja Lia datang memberiku semangat, aku sangat senang atas kehadiran Lia dan aku pun makin semangat dengan kehadiran Lia. Pertandingan pun di mulai kembali, kami langsung mengejar skor kami yang tertinggal jauh dan skor kami pun seri. Di detik-detik menit-menit terakhir belum ada satu pun yang memasukkan bola ke ring dan penjagaan dari tim lawan pun sangat ketat. Waktu yang tersisa pun tidak banyak, akhirnya aku nekat melempar bola dari kejauhan , berharap bola itu akan masuk ke ring dan keajaiban pun datang. Bola  yang ku lempar akhirnya masuk, semua temanku bersorak merayakan kemenangan. Aku sangat bangga dengan timku yang selama ini sudah bekerja keras demi mempersembahkan gelar juara untuk sekolah kita. Saat selesai pertandingan semua temanku langsung mengangkatku dan bersorak-sorak, aku memegang piala yang slama ini aku harapkan dan piala yang ingin ku persembahkan untuk sekolah. Dan Lia menghampiriku lalu berkata
“ Rio, maafin aku ya yang gak bisa ngertiin kamu aku bener-bener nyesel “ ucap Lia
“iya gak apa-apa kok Lia, aku kan dah pernah bilang kalo aku bakal nerima kamu kapan aja, jadi sekarang kita balikan lagi ?” kataku sambil tersenyum
“iya, aku bangga sama kamu yang udah buat sekolah kita bisa dapet juara pertama” kata Lia
“iya Lia “ ucapku senang
                Akhirnya keinginanku tercapai juga, bisa membanggakan sekolah dengan prestasi yang telah aku dan tim ku raih. Dan hubunganku dengan Lia pun berjalan baik, aku tidak akan pernah melupakan kerja keras tim ku dan kejadian dengan pacarku yang membuat kami semakin mengerti satu sama lain.


Oleh: @m4L14 N4ND@